Loading...

Minggu, 12 April 2009

Konsep, tantangan MSDM dan Perencanaan SDM Pendidikan

KONSEP, TANTANGAN MSDM

DAN PERENCANAAN SDM PENDIDIKAN

Pada mulanya pemikiran tentang Manajemen Sumber Daya Manusia (SDM), tidak terlepas dari pemikiran manajemen secara umum dalam dunia organisasi bisnis perusahaan atau kebijakan-kebijakan publik. Entah mengapa, kemudian konsep ini seolah ditarik dan dijadikan pisau analisis dalam setiap tindak penyelenggaran, perencanaan dan kebijakan pendidikan. Dasar asumsi ini terkonstruk, karena selama ini belum ditemukan bahasan-bahasan yang secara khusus berbicara tentang konsep MSDM dalam pendidikan. Tetapi, selama ada upaya penyempurnaan dan penciptaan bangunan filosofis secara matang, kemudian hal itu menjadi elemen yang wajar-wajara saja. Toh suatu bangunan keilmuan baru akan bisa terkonstruk atau terwujud berdasar stimulus disiplin ilmu yang lain.

Mengawali dialog tentang MSDM ini, Flippo (1996) mengungkapkan arti Manajemen Sumber Daya Manusia (SDM) dapat sebagai kegiatan perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengendalian atas pengadaan tenaga kerja, pengembangan, kompensasi, integrasi pemeliharaan dan pemutusan hubungan kerja dengan sumber daya manusia untuk mencapai sasaran perorangan, organisasi dan masyarakat. Atau MSDM dapat dipahami sebagai kegiatan perencanaan, pengadaan, pengembangan, pemeliharaan dan penggunaan SDM dalam upaya mencapai tujuan individual maupun organisasional. Berdasar pada pemahaman tersebut, maka dalam konteks pendidikan MSDM dapat dipahami sebagai upaya apapun yang mengarah pada kegiatan perencanaan, pengadaan, pengembangan, pemeliharaan dan penggunaan SDM kependidikan dalam upaya mencapai tujuan organisasional penyelenggaraan pendidikan yang baik secara personal dan sosial setiap elemen yang mendukung keberhasilan pendidikan.

Rumusan MSDM pendidikan yang ada, kemudian berkembang menjadi format kebijakan pendidikan di setiap pemberdayaan dan pembudayaan sistem, iklim dan proses pendidikan secara demokratis dan relegius pada konteks ke_Indonesiaan. Manajemen pendidikan diharapkan mampu menerapkan nilai-nilai budaya organisasi, mewujudkan kemandirian dan keunggulan bagi kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, baik dalam karakteristik lokal maupun perspektif global dinamisasi pendidikan. Jadi pada wilayah ini, konsep MSDM pendidikan yang berusaha diketengahkan bersifat holistik dan mengarah pada multi respon; (a) Pendekatan SDM, dengan menekankan pengelolaan dan pendayagunaan yang memperhatikan hak-hak azasi manusia kependidikan; (b) Pendekatan Manajerial, menekankan pada tanggungjawab untuk menyediakan dan melayani kebutuhan SDM struktur organisasi kependidikan; (c) Pendekatan Sistem, yang menekankan pada tanggungjawab sebagai sub-sistem dalam organisasi kependidikan; serta (d) Pendekatan Proaktif, menekankan pada kontribusi terhadap kebutuhan-kebutuhan bio-psikososial peserta didik, pengelola pendidikan, tenaga kependidikan dan organisasi kependidikan dalam pemecahan masalah untuk setiap problem yang hadir.

Ketika sebuah konsep terwujud, pasti terdapat usaha realisasi dan aplikasi secara praktis, baik dalam upaya mempertahankan atau menghadapi setiap tantangan yang ada. Artinya, kenapa MSDM pendidikan ini perlu diciptakan. Tidak lain sebagai usaha untuk memberikan jawaban-jawaban terhadap problem-problem kependidikan yang ada, baik secara internal dan eksternal atas berbagai kebijakan positif. Secara umum kendala-kendala yang dihadapi dunia pendidikan Indonesia, antara lain: (a) mutu pendidikan yang masih rendah dan tingginya angka putus sekolah; (b) belum dimanfaatkannya secara maksimal ilmu dan teknologi bagi kemajuan pendidikan akibat rendahnya kesadaran dan penguasaan teknologi para pelaku pendidikan; (c) belum berkembangnya budaya belajar di kalangan masyarakat; (d) profesionalisme dan tingkat kesejahteraan guru dan tenaga kependidikan lainnya yang masih belum sesuai dengan tantangan peningkatan mutu; (e) menurunnya status kesehatan dan gizi sebagian peserta didik sebagai dampak krisis ekonomi yang mempengaruhi kesiapan mereka untuk belajar; dan (f) terjadinya gejala umum menurunnya moral, budi pekerti dan rasa toleransi di kalangan peserta didik dan generasi muda.

Dengan kata lain, konsep MSDM pendidikan dirumuskan untuk bisa memberikan solusi terbaik bagi permasalahan-permasalahan pendidikan yang ada serta berusaha menciptakan peluang bagi terwujudnya sistem pendidikan ideal dan aplikatif. Peluang-peluang yang semestinya bisa diciptakan dengan baik, diantaranya: (a) ilmu pengetahuan dan teknologi yang bisa dikembangkan melalui pendidikan merupakan sumber daya yang tidak terbatas dan dapat dimanfaatkan secara terus-menerus; (b) teknologi yang berkembang pesat dapat dimanfaatkan untuk mendukung pembangunan pendidikan; (c) tuntutan masyarakat akan pendidikan yang semakin merata dan bermutu semakin meingkat dan tercapai; (d) dapat meningkatkan rata-rata tingkat pendidikan masyarakat dan memberikan peluang untuk kesejahteraan hidupnya dan sebagainya.

Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan di atas, maka kemudian sangatlah perlu untuk menciptakan Sumber Daya Manusia (SDM) yang baik dalam pendidikan, yang kemudian memiliki kapabilitas dalam merencanakan MSDM dan merumuskan kebijakan-kebijakan pendidikan berkualitas dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Adapun perencanaan SDM yang berusaha ditawarkan adalah: (a) Langkah Perencanaan (planning), menyangkut rencana pengelolaan SDM kependidikan baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang dimana hal tersebut berkaitan erat dengan operasionalisasi organisasi dan kelancaran kerja sistem pendidikan yang ada; (b) Langkah Pengadaan (procurement), menyangkut usaha untuk memperoleh jenis dan jumlah SDM yang tepat, yang diperlukan untuk mencapai sasaran organisasi kependidikan; (c) Langkah Pengembangan (development) berkaitan erat dengan peningkatan ketrampilan dan kemampuan yang diupayakan melalui jalur pelatihan maupun pendidikan terhadap SDM yang ada. Juga berbagai bentuk pengembangan diri untuk para tenaga kependidikan dan peserta didik yang berprestasi; (d) Langkah Pemeliharaan (maintenance) berkaitan dengan upaya mempertahankan kemauan dan kemampuan pendidikan dan pembelajaran melalui penerapan beberapa program berkualitas dan inisatif; dan (e) Langkah Penggunaan (use) menekankan pada pelaksanaan berbagai tugas dan pekerjaan tenaga kependidikan serta jenjang peningkatan posisi jika memang diperlukan.




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar